Ferrania adalah sebuah perusahaan film fotografi asal Italia yang tadinya sudah tidak berproduksi selama beberapa tahun sebagai imbas menurunnya minat terhadap fotografi film. Namun pada tahun 2013 beberapa karyawan Ferrania bersikukuh untuk menghidupkan kembali lini produksinya, bukti bahwa semangat terhadap fotografi film tidak mau mati. Setelah menjalani berbagai riset dan persiapan pra produksi, mulai memastikan ketersediaan bahan kimia, melatih kembali pekerja, hingga menghimpun modal awal lewat skema crowdfunding kickstarter, kini Ferrania mulai menyiapkan peralatan produksinya.
Kondisi mesin roll film Ferrania
Yang menarik dalam menuliskan kemajuan yang dicapainya kali ini, Ferrania menyertakan juga pengetahuan tentang proses produksi film. Diawali dengan memperkenalkan satu mesin berusia 10 tahun bernama "Little Boy" yang oleh Ferrania diibaratkan sebagai sebuah benih. "Dan
selayaknya benih, (mesin) itu tertutup debu (dan kotoran) ketika kami
temukan." tulis Ferrania dalam blognya. Little Boy dipensiunkan tahun
2006 dan menganggur hingga 2012 ketika ditemukan tim Ferrania. Walaupun
terlindung dalam ruangan khusus tetap saja banyak karat, debu, dan
endapan sisa pemakaian yang sudah mengeras.
Mesin roll film Ferrania
Mesin roll film Ferrania
Mesin roll film Ferrania
Proses pembersihan Little Boy tidaklah mudah, pertama karena ruangan dijaga pada suhu rendah. Otomatis, pemanas portable harus digunakan untuk sekedar meningkatkan suhu beberapa derajat diatas nol, belum lagi pakaian khusus yang harus dikenakan selama membersihkan mesin. Kedua karena Drying Tunnel bentuknya panjang dan menyempit, hanya pekerja berukuran tubuh kecil yang dapat menjangkau.
Mesin roll film Ferrania
Mesin roll film Ferrania
Mesin roll film Ferrania
Mesin roll film Ferrania
Mesin roll film Ferrania
Bagaimana Little Boy menghasilkan film?
Little Boy merupakan jangtungnya Ferrania, dan berikut ini proses yang terjadi didalammnya
Mesin roll film Ferrania "Little Boy"
Acetate: Medium dasar untuk film fotografi dan sinema adalah Cellulose Triacetate (CTA). Proses dimulai dengan menggulung sejumlah besar CTA kedalam mesin.
Emulsion: Ada beberapa lapis emulsi bahan peka kimia dan gelatin. Tiap pelapisan keatas permukaan CTA harus presisi ukuran ketebalannya (mungkin lebih tepat ketipisnya). Toleransinya dalam satuan nanometer (nm), sehingga sedikit saja kesalahan setelan bisa berakibat fatal.
Extruder: Bertugas mengatur pelapisan medium dengan emulsi.
Chiller: Untuk beberapa saat lapisan beberapa emulsi tadi dibiarkan memisahkan diri secara alami menurut hukum rheology.
Selama pemisahan, lapisan-lapisan emulsi akal berubah dari fase cair ke fase gel.
Drying Tunnel: Sebelum dapat digulung, film harus benar-benar kering. Film dilewatkan beberapa gulungan untuk menyediakan waktu pengeringan sesuai kebutuhan film.
Final Coated Mini-Jumbo: Produk keluaran Little Boy dinamakan “mini-Jumbo”, tiap mini jumbo dihasilkan dalam dua jam. Satu gulung mini jumbo berdimensi lebar
23cm dan panjang 750m dengan area efektif (yang dapat terpakai) 20cm x 660m.
Semoga saja proyek idealis ambisius ini segera dapat membuahkan hasil, sesuai semangat para penggagasnya untuk menumbuhkan kembali kepercayaan terhadap masa depan fotografi film. "Kami adalah orang-orang yang mencintai film, anda (juga) mencintai film, dan kita (bersama) punya kekuatan. Jadi, mari kita lakukan" ucap duo Italia Nicola Baldini dan Marco Pagni, penggagas proyek Ferrania yang kepada mereka kita berterimakasih.
Bunyi klik yang terdengar ketika kita menekan tombol shutter memang terdengar hanya dalam sekejap, namun pada kenyataannya, terjadi sebuah peristiwa kompleks yang melibatkan komponen mekanis juga elektronis. Pasti menarik dapat mengamati apa yang terjadi dalam waktu sepersekian detik tersebut. Dalam video ini, kita diajak melihat bagaimana sesungguhnya mekanisme buka tutup rana (shutter curtain) tersebut terjadi, dalam video gerak lambat 10.000 fps.
Tipe shutter dari kamera dalam video diatas merupakan yang umum digunakan pada kamera SLR yaitu Focal Plane Shutter. Pembahasan lebih detail mengenai rana sebagai komponen shutter dan tipe-tipenya dapat dibaca disini.
Pada video tersebut dijelaskan juga mengenai kelemahan kamera dengan Focal Plane Shutter saat digunakan untuk merekam video. Fenomena tersebut dinamakan Rolling Shutter, dimana gambar suatu benda tegak akan menjadi miring karena ada gerakan vertikal, baik pada objek maupun pada kamera.
Memperingati pencapaian produksi lensa EF yang telah mencapai 100 juta lensa pada tahun 2014, sebuah video yang memuat tentang sejarah dan perkembangan teknologi lensa EF dipersembahkan oleh Canon. Para tokoh pengembang teknologi lensa Canon menjelaskan apa saja teknologi didalam lensa EF yang membuatnya luar biasa.
Sejarah
1987:
Lahirnya lensa EF, via EF 50mm f/1.8
Lensa pertama yang mengadopsi untrasonic motor via EF 300mm f/2.8 L USM
1989- Lensa SLR autofokus dengan bukaan paling besar via Canon EF 50mm f/1.0 L USM
1993- Lensa SLR zoom pertama dengan 10x perbesaran via Canon EF 35-350mm f/3.5-5.6 L USM
Lensa Canon pertama yang menggunakan elemen optik Super UD via EF 400mm f/5.6 L USM.
1995- Lensa SLR pertama yang menggunakan Image Stabilizer via EF 70-300mm f/4-5.6 IS USM
1997- Lensa L-series pertama yang menggunakan Image Stabilizer via EF 300mm f/4 L IS USM
2001- Lensa Canon pertama yang menggunakan elemen optik DO (multi-layered diffrective optical elements) EF 400mm f/4 DO IS USM
2003- Lahirnya lensa EF-S, via EFS 18-55mm f/3.5-5.6 USM
2008- Lensa Canon pertama yang mengaplikasikan SWC (sub-wavelength structure coating) via EF 24mm f/1.4 II USM.
2009- Pertama yang mengaplikasikan Hybrid Image Stabilizer via EF 100mm f/2.8 Macro IS USM.
2010- Lensa EF pertama dengan Fluorine Coating via EF 70-300mm f/4-5.6 L IS USM.
2011- Lensa fisheye zoom pertama yang bisa untuk memotret foto fisheye secara circular dan rectangular pada sensor fullframe via EF 8-15mm f/4 L FISHEYE ZOOM USM.
2012:
Lensa wide angle fullframe dengan Image Stabilizer pertama didunia via 24mm f/2.8 L IS USM.
Lensa autofokus pertama dengan motor stepper via EFS 18-135mm f/3.5-5.6 IS STM.
Lahirnya lensa EF-M untuk mirrorless, via EFM 18-55mm f/3.5-5.6 IS STM.
2013- Lensa zoom Ultra-Telephoto pertama dengan built in extender via EF 200-400mm f/4 L IS USM EXTENDER 1.4x
Teknologi
Secara garis besar, teknologi lensa EF dikategorikan dalam tiga poin
Optik
Lensa Aspherical: Dibutuhkan ketika membuat lensa dengan diameter besar agar tetap tajam dan minim distorsi. Dengan proses penggerusan lalu penghalusan, sehingga tercipta elemen optik yang lebih presisi dibandingkan sistem cetak. Canon mulai mengembangkan lensa Aspherical mulai 1971.
Lensa Fluorite: Merupakan bahan alam dengan properti optikal terbaik. Canon mulai mengembangkan pembuatan Lensa Fluorite sejak 1969
Lensa DO (Diffractive Optics): Lensa Apsherical yang memiliki guratan-guratan, memanfaatkan sifat difraksi cahaya untuk mengontrol arahnya.
Aktuator
UltraSonic Motor: Canon merupakan yang pertama berhasil menemukan kegunaan Ultrasonic Motor dengan menggunakannya didalam kamera. Ultrasonic Motor bekerja dengan mengkonversi getaran ultrasonic menjadi putaran dengan keakuratan mencapai 1/100mm
Stepping Motor: Ada dua aplikasi, yaitu tipe Lead Screw untuk sinema dan tipe gear untuk foto. Stepping motor dapat disinkronkan dengan sinyal dari sumber energi, sehingga responnya lebih cepat.
Image Stabilizer: Dapat mendeteksi getaran dengan gyro sensor, kemudian melakukan penyesuaian supaya arah cahaya tidak berubah.
Coating
SWC (sub-wavelength structure coating): Struktur nano berrbentuk rumput yang mengaburkan perbedaan sifar refraksi antara lensa dengan udara sehingga meminimalkan refleksi.
Demikian transkrip dari video tersebut, semoga semakin kenal (sehingga akan makin cinta) sama gearnya masing-masing.